Langsung ke konten utama

2020

Tumpah dan Tumbuh


Tahun itu punya angka yang super cantik, hanya terdiri dari dua angka sederhana yang ternyata membuat kita tidak bisa lupa.  Kita manusia memang suka dengan keindahan, tanggal cantik, tahun cantik, kita pasti mengelu-elukannya. Kepada sesuatu yang indah kita selalu ingin punya momen yang indah juga, agar kenangan indah bisa jauh lebih indah dan berkesan. Dan sudah berapa banyak rencana yang kita buat untuk bisa mewarnai tahun cantik itu dengan kisah indah yang kita rancang sendiri?.


Tapi ternyata semua hal yang terjadi kadang tidak butuh rencana. 


Saya membuka tahun cantik itu dengan kebahagiaan bersama kawan-kawan saya, bersama ribuan orang, saya melantunkan harapan di bawah kerlap-kerlip kembang api yang tidak berhenti membumbung tinggi di langit Kediri dengan suara lantang yang mampu menggetarkan hati saya. Harapan saya hari itu hanya satu, saya teringat lirik lagu judulnya “tahun baru lagi” dari band indie asal Bali yaitu nosstress “resolusi tanpa aksi, sama aja basa-basi”. Saya hanya berharap semua yang jadi rencana saya bisa saya wujudkan dengan usaha saya yang lebih keras dari biasanya, tidak hanya jadi rencana yang menidurkan saya dengan angan-angan semu saja. 


Tetapi saya sejenak lupa bahwa sebanyak apapun usaha yang saya lakukan, saya tidak akan pernah bisa melawan kuasa Tuhan. 


2020 saya berusaha dan  memang saya berhasil mewujudkan hampir semua rencana saya. Namun segala rencana yang terwujud tidak selalu membuat saya jadi bahagia. Awalnya, saya yakin bahwa semua rencana yang saya buat pasti akan membawa kebahagiaan untuk saya, tapi saya lagi-lagi lupa bahwa kesedihan ‘si teman baik kebahagiaan’ itu juga akan datang dalam satu paket di hadapan saya. Dan 2020 saya tidak menyiapkan diri untuk sebuah kesedihan yang amat besar. 


Namun sesiap apapun kita menghadapi kesedihan, kita pasti akan tetap kalah. 


2020 saya belajar bahwa meneteskan air mata, menangis tersedu-sedu sampai ujung dunia mendengar suaramu itu tidak apa-apa. Menunjukkan kesedihanmu itu boleh, dan merasa tidak mampu itu tidak masalah. Kesedihan dan tangisan tumpah menjadi satu bersamaan dengan tumbuhnya sebuah kebahagiaan. Rasanya menyakitkan tapi saya harus terima ini. 


Sebuah pencapaian datang bersamaan dengan kehilangan,  sebuah perayaan datang bersama dengan deru tangis, senyum lebar itu juga harus  mampu saling bertumpu dengan air mata. Semua kebahagiaan yang saya idam-idamkan terasa kosong, tidak ada artinya. Iya, saya berhasil, dan itu sudah cukup. Semua terasa percuma, ketika saya tidak bisa mempersembahkan kebahagiaan saya kepada orang yang memberi saya kekuatan. Ketika saya tidak bisa memeluknya dan berkata bahwa ‘saya kuat berkat kamu, terima kasih’. 


2020 itu seperti ombak yang datang kemudian menjadi laut yang tenang tanpa kita tahu bahwa ternyata laut yang tenang itu sedang membawa ombak yang lebih besar. Dan jika kita tidak benar-benar siap, kita hanya akan lebur bersamanya. 


Kita dituntut untuk tidak boleh merasakan tenang, harus selalu siaga untuk menghadapi hal di depan yang tidak tau akan datang seperti apa wujudnya. Kita sudah berusaha untuk mencapai bahagia tapi yang datang sedih lagi. 


Ya mau bagaimana lagi, semua hanya perlu diterima. Bagaimanapun cara yang kita lakukan untuk menerimanya itu tidak apa-apa. Entah dengan menangis sangat keras di sebuah acara perayaan kelulusan, entah menangis tanpa suara di sudut kamar yang gelap, entah menangis tanpa air mata dengan senyum lebar di depan teman-teman baikmu. Itu tidak apa-apa. Lakukan apapun yang bisa membuat kamu merasa kuat dan mampu berdiri kokoh lagi. 


Air mata dan kesedihan boleh tumpah ruah sampai memenuhi seluruh rongga dada, Namun hidup harus terus berjalan, kesedihan tak bisa menghentikan kita untuk bisa bertahan sekokoh pohon kelapa yang meskipun terombang-ambing ia tetap tak hanyut.


Selain mampu menumpahkan air mata yang tak terkira jumlahnya itu, 2020 juga membuat banyak manusia akhirnya tumbuh dengan hati yang lebih besar untuk menerima apapun yang terjadi. Tumbuh menjadi lebih kuat untuk menghadapi segala ketidakpastian hidup.Yang pasti, kita hebat sudah mampu berjuang :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya Suka Sepi Tapi Tidak Suka Kesepian

Saya Suka Sepi Tapi Tidak Suka Kesepian   Adakalanya saya sangat menyukai sepi, mungkin bisa dibilang saya memang sangat menyukai sepi tapi saya tidak suka kesepian. Ada perbedaan antara keduanya – sepi dan kesepian. Sepi itu tidak ramai, namun sepi saya bisa saja ramai, ramainya berasal dari pikiran saya sendiri.  Di luar tak banyak suara, namun dengan lantang saya banyak bicara dengan pikiran saya sendiri.  Itulah salah satu alasan saya menyukai sepi, suara lantang dalam pikiran sering membuat saya tersadar, sering membuat saya merasa hidup dengan rasa ketidakhidupan ini. Dalam suara berisik dan ramai saya kebanyakan hidup dalam kehidupan orang-orang yang seragam.  Saya melupakan bahwa dalam sepi ada banyak hal yang tak tersampaikan dalam ramai. Ada banyak hal yang diabaikan padahal dia selalu ada dan tumbuh dengan diam. Misalnya sebuah pohon yang tumbuh dan memayungi kursi-kursi yang kita duduki dengan nyaman. Mereka selalu mendengarkan banyak cerita den...

22 Tahun

 Ulang tahun dan kelelahan menjalani hidup    Entah karena apa, semakin tua aku semakin tidak menikmati momen bertambahnya umur ini. Padahal dari kecil memang tidak pernah terjadi hal yang menggembirakan yang terkait dengan ulang tahun. Dulu momen tersebut terasa mendebarkan, menebak apa yang akan terjadi selama setahun kedepan, menebak apa yang akan terjadi pada perjalanan umurku setahun. Bahkan satu ucapan kecil dari orang-orang yang mampu mengingat hari kelahiran itu terasa mendebarkan. Menyadari hari-hari kedepan akan menyenangkan meskipun pasti akan terjadi hal yang tidak mengenakkan, dan siapa sih orang yang bisa menolak hal-hal yang akan terjadi pada hidup?.       Dan dua puluh tahun berlalu, mulai umur itu, segala hal yang terjadi kedepan seperti memiliki keresahannya masing-masing. Apa benar jika semakin tua kita, maka semakin banyak pula kita berprasangka buruk pada hidup. Apakah memang prasangka buruk adalah tanda kedewasaan kita dalam berpi...