Langsung ke konten utama

Saya Suka Sepi Tapi Tidak Suka Kesepian

Saya Suka Sepi Tapi Tidak Suka Kesepian 



Adakalanya saya sangat menyukai sepi, mungkin bisa dibilang saya memang sangat menyukai sepi tapi saya tidak suka kesepian. Ada perbedaan antara keduanya – sepi dan kesepian. Sepi itu tidak ramai, namun sepi saya bisa saja ramai, ramainya berasal dari pikiran saya sendiri.  Di luar tak banyak suara, namun dengan lantang saya banyak bicara dengan pikiran saya sendiri. 

Itulah salah satu alasan saya menyukai sepi, suara lantang dalam pikiran sering membuat saya tersadar, sering membuat saya merasa hidup dengan rasa ketidakhidupan ini. Dalam suara berisik dan ramai saya kebanyakan hidup dalam kehidupan orang-orang yang seragam.  Saya melupakan bahwa dalam sepi ada banyak hal yang tak tersampaikan dalam ramai. Ada banyak hal yang diabaikan padahal dia selalu ada dan tumbuh dengan diam. Misalnya sebuah pohon yang tumbuh dan memayungi kursi-kursi yang kita duduki dengan nyaman. Mereka selalu mendengarkan banyak cerita dengan berbagai latar belakang perasaan. Ada cerita bahagia, cerita kesuksesan, cerita patah hati, atau cerita kegagalan, mereka cuma diam dan mungkin mendengarkan sambil mencoba memberi sejuk ketika waktu itu matahari sedang menantang ceritamu yang lebih membuat hati panas. 

Bayangkan jika hal-hal yang cuma bisa diam dan memberi sepi itu tiba-tiba ikutan gaduh menyahuti segala cekcok dan keramaian yang kita buat.  Betapa akan gaduhnya dunia ini. Begitulah sepi, mereka ada tapi membuat kita nyaman dengan keberadaannya. 


Sedangkan kesepian itu berbeda, mereka tumbuh dalam hati saya ketika sendirian atau bahkan berada dikeramaian namun yang bisa saya dengarkan cuma hati saya sendiri. Hati saya yang cuma mau mengerti bahwa tidak ada hati lain yang akan bisa menenangkan saya, yang tidak akan mau menemani saya. Kesepian adalah asumsi yang saya buat sendiri akibat ketakutan akan penolakan, ketakutan bahwa tidak akan ada yang mampu menerima saya, tak terkecuali diri saya sendiri.


Saya tidak suka kesepian karena saya ingin mampu menerima diri saya sendiri, mampu terbuka bahwa ada orang lain yang peduli pada saya, mampu merasakan sepi yang sebenarnya ramai. Mungkin hal-hal seperti ini memang seharusnya tidak cuma bisa diratapi, jika aku mau bahagia yang memang harus berusaha bahagia. Mungkin salah satu cara yang bisa saya lakukan adalah berbicara pada sepi, berbicara pada diri saya dan kalian  dengan menulis. Saya tidak tau apakah ada yang akan membaca dan merasakan mendengar cerita saya, saya hanya percaya bahwa saya didengar, bahwa saya tidak sedang kesepian ketika ada banyak miliaran orang di dunia yang akan mampu menemui tulisan saya. 



Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca dan mendengarkan saya.  Salam hangat dari orang yang suka sepi namun tidak suka kesepian. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2020

Tumpah dan Tumbuh Tahun itu punya angka yang super cantik, hanya terdiri dari dua angka sederhana yang ternyata membuat kita tidak bisa lupa.  Kita manusia memang suka dengan keindahan, tanggal cantik, tahun cantik, kita pasti mengelu-elukannya. Kepada sesuatu yang indah kita selalu ingin punya momen yang indah juga, agar kenangan indah bisa jauh lebih indah dan berkesan. Dan sudah berapa banyak rencana yang kita buat untuk bisa mewarnai tahun cantik itu dengan kisah indah yang kita rancang sendiri?. Tapi ternyata semua hal yang terjadi kadang tidak butuh rencana.  Saya membuka tahun cantik itu dengan kebahagiaan bersama kawan-kawan saya, bersama ribuan orang, saya melantunkan harapan di bawah kerlap-kerlip kembang api yang tidak berhenti membumbung tinggi di langit Kediri dengan suara lantang yang mampu menggetarkan hati saya. Harapan saya hari itu hanya satu, saya teringat lirik lagu judulnya “tahun baru lagi” dari band indie asal Bali yaitu nosstress “resolusi tanpa ak...

22 Tahun

 Ulang tahun dan kelelahan menjalani hidup    Entah karena apa, semakin tua aku semakin tidak menikmati momen bertambahnya umur ini. Padahal dari kecil memang tidak pernah terjadi hal yang menggembirakan yang terkait dengan ulang tahun. Dulu momen tersebut terasa mendebarkan, menebak apa yang akan terjadi selama setahun kedepan, menebak apa yang akan terjadi pada perjalanan umurku setahun. Bahkan satu ucapan kecil dari orang-orang yang mampu mengingat hari kelahiran itu terasa mendebarkan. Menyadari hari-hari kedepan akan menyenangkan meskipun pasti akan terjadi hal yang tidak mengenakkan, dan siapa sih orang yang bisa menolak hal-hal yang akan terjadi pada hidup?.       Dan dua puluh tahun berlalu, mulai umur itu, segala hal yang terjadi kedepan seperti memiliki keresahannya masing-masing. Apa benar jika semakin tua kita, maka semakin banyak pula kita berprasangka buruk pada hidup. Apakah memang prasangka buruk adalah tanda kedewasaan kita dalam berpi...