Langsung ke konten utama

22 Tahun

 Ulang tahun dan kelelahan menjalani hidup 

 


Entah karena apa, semakin tua aku semakin tidak menikmati momen bertambahnya umur ini. Padahal dari kecil memang tidak pernah terjadi hal yang menggembirakan yang terkait dengan ulang tahun. Dulu momen tersebut terasa mendebarkan, menebak apa yang akan terjadi selama setahun kedepan, menebak apa yang akan terjadi pada perjalanan umurku setahun. Bahkan satu ucapan kecil dari orang-orang yang mampu mengingat hari kelahiran itu terasa mendebarkan. Menyadari hari-hari kedepan akan menyenangkan meskipun pasti akan terjadi hal yang tidak mengenakkan, dan siapa sih orang yang bisa menolak hal-hal yang akan terjadi pada hidup?. 
    
Dan dua puluh tahun berlalu, mulai umur itu, segala hal yang terjadi kedepan seperti memiliki keresahannya masing-masing. Apa benar jika semakin tua kita, maka semakin banyak pula kita berprasangka buruk pada hidup. Apakah memang prasangka buruk adalah tanda kedewasaan kita dalam berpikir? 
    
Semua hal menjadi terasa menyesakkan, tak ada hal-hal yang membuat dada berdebar hanya dengan memikirkannya. Tapi hidup harus terus berjalan, dan semakin dijalani semakin tidak terasa nikmat. Ketika dulu jatuh bisa dianggap sebagai langkah awal untuk menjadi lebih tinggi, sekarang berbanding balik. Sebuah hal yang menerbangkan hanyalah sebuah awal untuk kembali merasakan terjatuh dan sakit. Berkali-kali jatuh membuat kita memang terbiasa, namun sama sekali tak membuat kita merasa tidak lelah. 
    
Memulai umur 22 tahun sambil memikirkan harus berapa lagi jatuh dan berapa lagi usaha untuk terbang sungguh membuat dada semakin sesak dan muak. Namun berdoa agar tidak ada lagi ada umur 23 dan seterusnya sungguh tidak asik dan lebih terlihat menyedihkan. Sesulit apapun dan selelah bagaimanapun batin dalam menjalani hidup, yang bisa dibanggakan memang cuma rasa syukur dan mental bertahan. 
   
Menjalani segala hal yang terjadi memang merupakan pilihan paling tepat dan tidak ada lagi bandingannya. Membiarkan rasa lelah, muak, serta prasangka buruk menjadi teman dalam perjalanan ini. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya Suka Sepi Tapi Tidak Suka Kesepian

Saya Suka Sepi Tapi Tidak Suka Kesepian   Adakalanya saya sangat menyukai sepi, mungkin bisa dibilang saya memang sangat menyukai sepi tapi saya tidak suka kesepian. Ada perbedaan antara keduanya – sepi dan kesepian. Sepi itu tidak ramai, namun sepi saya bisa saja ramai, ramainya berasal dari pikiran saya sendiri.  Di luar tak banyak suara, namun dengan lantang saya banyak bicara dengan pikiran saya sendiri.  Itulah salah satu alasan saya menyukai sepi, suara lantang dalam pikiran sering membuat saya tersadar, sering membuat saya merasa hidup dengan rasa ketidakhidupan ini. Dalam suara berisik dan ramai saya kebanyakan hidup dalam kehidupan orang-orang yang seragam.  Saya melupakan bahwa dalam sepi ada banyak hal yang tak tersampaikan dalam ramai. Ada banyak hal yang diabaikan padahal dia selalu ada dan tumbuh dengan diam. Misalnya sebuah pohon yang tumbuh dan memayungi kursi-kursi yang kita duduki dengan nyaman. Mereka selalu mendengarkan banyak cerita den...

2020

Tumpah dan Tumbuh Tahun itu punya angka yang super cantik, hanya terdiri dari dua angka sederhana yang ternyata membuat kita tidak bisa lupa.  Kita manusia memang suka dengan keindahan, tanggal cantik, tahun cantik, kita pasti mengelu-elukannya. Kepada sesuatu yang indah kita selalu ingin punya momen yang indah juga, agar kenangan indah bisa jauh lebih indah dan berkesan. Dan sudah berapa banyak rencana yang kita buat untuk bisa mewarnai tahun cantik itu dengan kisah indah yang kita rancang sendiri?. Tapi ternyata semua hal yang terjadi kadang tidak butuh rencana.  Saya membuka tahun cantik itu dengan kebahagiaan bersama kawan-kawan saya, bersama ribuan orang, saya melantunkan harapan di bawah kerlap-kerlip kembang api yang tidak berhenti membumbung tinggi di langit Kediri dengan suara lantang yang mampu menggetarkan hati saya. Harapan saya hari itu hanya satu, saya teringat lirik lagu judulnya “tahun baru lagi” dari band indie asal Bali yaitu nosstress “resolusi tanpa ak...